Sabtu, 02 November 2013

Tugas ke 2 Psikologi Manajemen
ARMONO : 13509517
KELAS : 3PA05

    
1.     Pengertian Struktur Manajemen
Istilah organisasi memiliki dua arti umum, pertama, mengacu pada suatu lembaga (institution) atau kelompok fungsional, sebagai contoh kita mengacu pada perusahaan, badan pemerintah, rumah sakit, atau suatu perkumpulan olahraga. Arti kedua mengacu pada proses pengorganisasian, sebagai salah satu dari fungsi manajemen.
a.     Definisi pengorganisasian
Pengorganisasian adalah langkah untuk merancang struktur formal, menetapkan, menggolongkan dan mengatur bebagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi dengan efisien.

Definisi pengorganisasian menurut para ahli :
1.     Menurut G. R Terry: pengorganisasian berasal dari kata organism (organisme) yang merupakan sebuah eititas dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan mereka satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka terhadap keseluruhan.
2.     Menurut Siagian (1983) : Pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas, tugas,kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatuorganisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan.
3.     T. Hani handoko: sesuatu yang digambarkan sebagai sesuatu yang tersentralisasi dan berisi tugas-tugas yang sangat terspesialisasikan.

b.     Definisi organisasi
Organisasi merupakan sekumpulan/sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan untuk bekerjasama dengan pembagian atau alokasi tugas dan tanggung jawab tertentu dalam system koordinasi, kooperatif, dorongan-dorongan, dan pengaturan guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan.

Definisi organisasi menurut beberapa ahli :
1.     Menurut Chester I. Bernard : Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
2.     Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian : Organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dan dalam ikatan itu terdapat seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.
3.     Menurut Prof. Dr. Mr. S. Pradjudi Atmosudiro : Organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk bersamasama mencapai suatu tujuan tertentu.

c.      Pengorganisasian sebagai Salah satu Fungsi Manajemen
Pentingnya pengorganisasian sebagai fungsi manajemen yang dijalankan oleh setiap manajer atau orang-orang yang menjalankan manajemen dalam setiap organisasi adalah karena pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang penting, karena dengan pengorganisasian berarti akan memadukan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi (baik sumber daya yang berupa sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya) ke arah tercapainnya suatu tujuan manajemen. Dalam pengorganisasian seluruh sumber (resources) baik berupa manusia maupun yang non-manusia harus di atur dan padukan sedemikian rupa demi berjalannnya suatu organisasi dalam rangka usaha pencapaian tujuan manajemen organisasi.
Pemahaman tentang pengorganisasian sebagai salah satu fungsi manajemen akan memberikan kejelasan bahwa proses pengaturan di dalam organisasi tidak akan selesai tanpa diikuti oleh aktualisasi yang berupa bimbingan kepada manusia yang berada di dalam organisasi tersebut, sehingga manusia tersebut dapat secara terus-menerus  menjalankan kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Koontz & Donnell menyebutkan fungsi pengorganisasian manajer meliputi penentuan golongan kegiatan – kegiatan yang diperlukan untuk tujuan – tujuan perusahaan, pengelompokan kegiatan tersebut kedalam suatu bagian yang dipimpin oleh seorang manajer serta melimpahkan wewenang untuk melaksanakannya.
2.     Accounting dalam Manajemen :
a)     Definisi Accounting menurut beberapa ahli :
Harahap (2003) mendefinisikan akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
Charles T. Horngren, dan Walter T.Harrison (Horngren Harrison, 2007) menyatakan bahwa: Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi laporan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan.
Menurut Warren dkk (2005) menjelaskan bahwa: “secara umum, akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan”.

b)     Pentingnya Accounting

Akuntansi mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu kegiatan manajemen, baik manajemen dalam organisasi kecil maupun organisasi dalam skala besar, seperti perusahaan. kemajuan suatu organisasi manajemen dapat dilihat dari proses akuntansi manajemen organisasi  tersebut. Jika proses akuntansinya tersusun dengan baik dan benar sesuai dengan bukti-bukti yang ada, maka kemungkinan besar organisasi tersebut merupakan organisasi yang baik, begitu pula sebaliknya.
Akuntansi juga berfungsi sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap aktivitas ekonomi dan kondisi suatu organisasi, misalnya untuk mengetahui  maju mundurnya suatu perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan tersebut. Selain itu akuntansi juga berfungsi sebagai dasar dalam perhitungan pajak suatu perusahaan dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para investor yang ingin menginvestasikan asset mereka. Jadi dengan kata lain akuntansi merupakan cerminan dari suatu perusahaan.

c)     Prinsip – prinsip Accounting
Prinsip akuntansi adalah aturan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan dan konsep teoritis akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi.  Untuk lebih memahami dan membandingkan apa yang sebenarnya dapat dimasukkan sebagai prinsip akuntansi, berikut ini dikemukakan beberapa perangkat konsep-konsep dasar menurut beberapa sumber :
1.          Prinsip Akuntansi menurut Prinsip Akuntansi 1984.
a.      Kesatuan Akuntansi
b.     Kesinambungan
c.      Periode Akuntansi
d.     Pengukuran Dalam Nilai Uang
e.      Harga Pertukaran
2.          Prinsip Akuntansi menurut APB  Statement No.4
a.      Kesatuan usaha sebagai focus akuntansi (accounting entity)
b.     Kontinuitas Usaha (Going Concern)
c.      Pengukuran aktiva dan Passiva unit Usaha (measurement of economic resources and obligations)
d.     Laporan berdasarkan periode waktu (Time Periode)
e.      Pengukuran dalam satuan moneter (measurement in term of money)
f.      Asas himpun/akrual (accrual)
g.     Harga Pertukaran (jual beli) (exchange price)
h.     Angka/jumlah rupiah pendekatan (Approximation)
i.       Kebijaksanaan (judgement)
j.       Informasi Keuangan Umum (General Purpose Finansial Information)
k.     Laporan Keuangan Saling Berkaitan (Fundamentally Related Financial Statements)
l.       Mementingkan Substansi Daripada Bentuk luar/Yuridis (Substance Over Form)
m.   Materialitas (Materiality)
3.      Prinsip Kos
APB Statement No.4 mendefinisikan Kos adalah jumlah, diukur dalam uang, kas uang dibelanjakan atau property lain yang ditransfer, penerbitan modal saham, jasa yang diberikan atau uang yang terjadi, sebagai imbalan atas barang atau jasa yang diterima, atau seharusnya diterima.
Kos dapat diklasifikasikan sebagai belum terpakai (unexpired) adalah asset yang dapat digunakan untuk menghasilkan revenue di masa mendatang dan telah terpakai (experid) adalah pengurang revebue atau dibenbankan sebagai pengurang laba ditahan.
Prinsip kos dijustifikasi oleh postulat kelangsungan usaha yang mengasumsikan bahwa entitas akan meneruskan aktivitasnya secara tidak terbatas, sehingga mengelimiasi perlunya menggunakan nilai sekarang atau nilai likuiditas untuk penilaian asset.
Prinsip kos lemah pada validitas postulat unit pengukur, yang mengasumsikan bahwa daya beli dolar adalah stabil, merupakan keterbatasan utama untuk menerapkan prinsip kos, pada kenyataannya adanya inflasi.
4.      Prinsip Revenue
a. Prinsip Revenue Menspesifikasi :
1. Sifat Komponen-komponen revenue
2. Pengukuran Revenue
3. Waktu Pengukuran Revenue
4. Sifat dan Komponen-Komponen Revenue
b. Revenue diintrepretasikan sebagai :
Aliran masuk asset bersih yang berasal dari penjualan barang atau jasa. Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan kepada pelanggan Produk perusahaan yang dihasilkan dan penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan selama periode waktu tertentu.
5.      Prinsip Penandingan
Prinsip penandingan mengatakan bahwa expense (beban) harus diakui pada periode yang sama dengan revenue, yaitu revenue diakui dalam periode tertentu sesuai dengan prinsip revenue, dan beban yang terkait kemudian diakui.
Hubungan antara revenue dan expense tergantung pada satu dari empat criteria:
a.      Penandingan langsung kos yang telah terpakai dengan peridenya (sebagai contoh, gaji direktur untuk periode tertentu).
b.     Alokasi kos selama periode yang mendapatkan manfaat (sebagai contoh, depresiasi).
c.      Menjadikan expense semua kos lain dalam periode terjadinya, kecuali jika dapat ditunjukkan bahwa masih memiliki manfaat di masa mendatang.
d.     Kos yang belum terserap (yaitu, asset) yang tidak memenuhi salah satu dari empat criteria untuk menjadikannya expense pada periode berjalan dapat dibebankan pada periode mendatang dan dapat diklasifikasikan dalam kategori yang berbeda sesuai penggunaan yang dalam penerapan prinsip penandingan.
6.      Prinsip Objektivitas
Kegunaan informasi keuangan tergantung pada tingkat realibilitas prosedur pengukuran yang digunakan.  Karena menjamin reliabilitas maksimum adalah salat sulit, akuntan, telah menggunakan prinsip objektivitas untuk menjustifikasi pemilihan prosedur pengukuran yang digunakan. 
Prinsip objektivitas, bagaimanapun, yang menjadi subjek interpretasi yang berbeda :
a.      Pengukuran objektivitas merupakan ukuran yang tidak bersifat personel dalam pengertian bebas dan bias personel pengukurnya.
b.     Pengukuran objektivitas merupakan pengukuran variable dalam pengertian bahwa pengukuran didasarkan pada bukti.
c.      Pengukuran objektivitas merupakan hasil dari dari konsensus diantara kelompok pengamat atau pengukur tertentu.
d.     Ukuran penyebaran atau distribusi pengukuran digunakan sebagai indicator tingkat objectivitas suatu system pengukuran termaksud.
7.      Prinsip Konsistensi
Prinsip konsistensi menyatakan bahwa peristiwa ekonomi yang serupa seharusnya dicatat dan dilaporkan secara konsisten dari period ke periode.  Prinsip ini berimplikasi bahwa prosedur akuntansi yang semua akan diterapkan dalam item serupa sepanjang waktu.
Prinsip konsistensi tidak menghalangi perusahaan mengubah prosedur akuntansi ketika hal tersebut dapat dibenarkan dengan perubahan keadaan, atau jika prosedur alternative lebih baik.  Menurut APB opinion No. 20 perubahan yang dapat menjustifikasi perubahan prosedur adalah :
a.      Perubahan dalam prinsip akuntansi
b.     Perubahan dalam estimasi akuntansi
c.      Perubahan dalam entitas pelaporan
Perubahan ini harus terefleksi dalam akun dan dilaporakan dalam laporan keuangan secara retroaktif untuk perubahan dalam entitas akuntansi, secara prospektif untuk perubahan dalam estimasi akuntansi, dan secara umum dan segera untuk perubahan dalam prinsip akuntansi.
8.      Prinsip Pengungkapan Penuh
Terdapat consensus umum dalam terdapat pengungkapan data akuntansi yang penuh (full), wajar (fair), cukup (adequate).  Pengungkapan penuh mensyaratkan bahwa laporan keuangan didesaian dan dibuat untuk menggambarkan secara akurat peristiwa ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan untuk suatu periode dan memuat informasi yang memadai untuk membuat laporan keuangan dan tidak menyesatkan bagi rata-rata investor.  Beberapa hal yang menjadi perhatian pengungkapan penuh :
  Rincian tentang kebijakan dan metode akuntansi, terutama bila diperlukan pertimbangan dalam penerapan metode akuntansi.
  Informasi tambahan untuk membantu analisa investasi atau untuk mengindikasikan hak berbagai pihak yang memiliki klaim atas pelaporan entitas.
  Perubahan dari tahun sebelumnya dalam kebijakan dan metode akuntansi  yang digunakan dan dampak perubahan tersebut.
  Aset, Utang, Kos, dan Revenue yang timbul dari transaksi dengan pihak lain yang memiliki kepentingan pengendalian atau dengan direktur atau karyawan yang memiliki hubungan khusus dalam entitas pelaporan.
  Aset, Utang, dan Komitmen Bersyarat
  Transaksi keuangan atau transaksi operasi lainnya yang terjadi setelah tanggal neraca yang memiliki dampak material terhadap posisi keuangan entitas.
9.      Prinsip Konservatisme
Prinsip Konservatisme menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih teknik akuntansi yang dapat diterima, maka preferensinya adalah memilih yang paling kecil dampaknya terhadap ekuitas pemegang saham.
10.  Prinsip Materialitas
Prinsip materialitas menyatakan bahwa transaksi dan peristiwa yang tidak memiliki dampak ekonomi signifikan dapat diatasi dengan cara yang paling tepat, apakah transaksi dan peristiwa tersebut sesuai dengan prinsip berterima umum atau tidak, dan tidak perlu diungkapkan.
Suatu jumlah material tidak semata-mata, karena alasan besarnya jumlah, factor-factor lain meliputi serangkaian hal-hal berikut ini harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan tentang materilitas. Antara lain :
Sifat Item, apakah item : 
  Merupakan factor masukkan dalam penentuan net income
  Tidak biasa atau luar biasa
  Peristiwa atau kondisi bersyarat.
  Dapat ditentukan berdasarkan fakta dan keadaan yang ada
  Diminta oleh undang-undang atau regulasi.
Jumlah item itu sendiri, dalam hubungannya dengan :
  Laporsn keuangan secara keseluruhan.
  Total akun tempat item tersebut terbentuk, atau seharusnya terbentuk sebagai bagiuannya,
  Item item terkait
  Jumlah yang terkait dalam tahun sebelumnya atau jumlah yang diharapakan dalam tahun-tahun mendatang.
11.  Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas
Prinsip keseragaman merujuk pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan yang berbeda.  Tujuan yang diinginkan adalah mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keanekaragaman yang tercipta karena penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
Pendukung utama prinsip keseragaman mengklaim bahwa prinsip tersebut akan :
a.      Mengurangi perbedaan penggunaan prosedur akuntansi dan ketidakcukupan praktik akuntansi
b.     Memungkinkan perbandingan yang berarti bagi pengguna laporan keuangan.
c.      Memperbaiki kepercayaan pengguna para laporan keuangan.
d.     Mendorong intervensi pemerintah dan regulasi praktik akuntansi
Pendukung utama fleksibilitas mengklaim bahwa :
a.      Penggunaan prosedur akuntansi yang seragam untuk menunjukkan item yang sama yang terjadi dalam berbagai kasus menimbulkan risiko penyembunyian perbedaan-perbedaan penting diantara kasus tersebut.
b.     Komparbilitas merupakan tujuan yang tidak praktis, hal tersebut tidak dapat dicapai dengan mengadopsi aturan-aturan perusahaan yang tidak menggunakan pencatatan yang memadai untuk situasi factual yang berbeda.
c.      Perbedaan dalam keadaan”atau “ variable-variabel keadaan meminta perlakuan yang berbeda, sehinggga pelaporan perusahaan dapat merespon keaadaan tempat transaksi dan peristiwa terjadi.

3.     Mengendalikan Fungsi Manajemen :
a)     Definisi Mengendalikan (controling)
Earl P.Strong mengemukakan pengendalian adalah proses pengatur an berbagai faktor dalam suatu perusahaan,agar pelaksanaan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana.
Harold Koontz berpendapat bahwa pengendalian adalah pengukuran dan koreksi kinerja bawahan,agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara.
b)     Langkah - langkah Pengendalian ( control )
Langkah-langkah proses pengendalian :
1. Menentukan standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
2. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
3. Membandingkan pelaksanaan atau hasil standard dan menentukan penyimpangan jika ada.
4. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana.
c)     Tipe – tipe pengendalian ( control )
1.     Tipe-tipe pengendalian (awal) preliminary, kadang-kadang disebut kendali feedforward, hal ini harus dipenuhi sebelum suatu perkerjaan dimulai. Kendali ini menyakinkan bahwa arah yang tepat telah disusun dan sumber-sumber yang tepat tersedia untuk memenuhinya.
2.     Tipe-tipe pengendalian (saat ini) concurrent berfokus pada apa yang sedang terjadi selama proses. Kadang-kadang disebut kendali steering, kendali ini memantau operasi dan aktivitas yang sedang berjalan untuk menjamin sesuatunya telah sedang dikerjakan dengan tepat.
3.     Tipe-tipe pengendalian (akhir) post-action; kadang-kadang disebut kendali feedback , kendali ini mengambil tempat setelah suatu tindakan dilengkapi. Kendali akhir berfokus pada hasil akhir, kebalikan dari input dan aktivitas.

d)     Kontrol / pengendalian proses manajemen.
Manajemen yang merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan terhadap upaya-upaya yang dilakukan anggota organisasi dan penggunaan segala macam sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi.

Pengendalian setidaknya melibatkan beberapa aktivitas yaitu:
1.     Menentukan apa yang akan diukur
2.     Menentukan standar yang telah ditentukan sebelumnya
3.     Pengukuran kinerja
4.     Membandingkan hasil pengukuran dengan standar
5.     Tindakan koreksi.

Proses pengendalian manajemen ini diperlukan karena dengan pengendalian manajemen dapat dilakukan perbaikan secara cepat dan tidak harus menunggu sampai satu periode pelaksanaan strategis selesai apabila  strategi yang sebelumnya telah ditetapkan tidak efektif lagi.
Terdapat tiga langkah penting dalam proses pengendalian manajemen yaitu:
1.   Mengukur hasil/prestasi yang telah dicapaioleh staf atau organisasi
2.   Membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tolok ukur.
3.   Memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya, dan menggunakan, dan menggunakan faktor tersebut untuk menetapkan langkah-langkah intervensi.

 Referensi :
Handoko, T. Hani (2003), Manajemen.  Edisi Kedua.  Cetakan Kedelapanbelas.    Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar