Tugas ke 2 Psikologi Manajemen
ARMONO : 13509517
KELAS : 3PA05
1.
Pengertian
Struktur Manajemen
Istilah organisasi memiliki dua arti umum, pertama, mengacu pada suatu
lembaga (institution) atau kelompok fungsional, sebagai contoh kita mengacu
pada perusahaan, badan pemerintah, rumah sakit, atau suatu perkumpulan
olahraga. Arti kedua mengacu pada proses pengorganisasian, sebagai salah satu
dari fungsi manajemen.
a.
Definisi
pengorganisasian
Pengorganisasian adalah langkah
untuk merancang struktur formal, menetapkan, menggolongkan dan mengatur bebagai
macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian
wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi
dengan efisien.
Definisi
pengorganisasian menurut para ahli :
1. Menurut G. R
Terry: pengorganisasian berasal dari kata organism (organisme) yang
merupakan sebuah eititas dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa
sehingga hubungan mereka satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka
terhadap keseluruhan.
2. Menurut Siagian
(1983) : Pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokan orang-orang,
alat-alat, tugas, tugas,kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga
tercipta suatuorganisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang
telah ditetapkan.
3. T. Hani
handoko: sesuatu yang digambarkan sebagai sesuatu yang tersentralisasi dan
berisi tugas-tugas yang sangat terspesialisasikan.
b.
Definisi
organisasi
Organisasi merupakan
sekumpulan/sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan
untuk bekerjasama dengan pembagian atau alokasi tugas dan tanggung jawab
tertentu dalam system koordinasi, kooperatif, dorongan-dorongan, dan pengaturan
guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan.
Definisi
organisasi menurut beberapa ahli :
1. Menurut
Chester I. Bernard : Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama
yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
2. Menurut Prof.
Dr. Sondang P. Siagian : Organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang
bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan
yang telah ditentukan dan dalam ikatan itu terdapat seorang atau
sekelompok orang yang disebut bawahan.
3. Menurut
Prof. Dr. Mr. S. Pradjudi Atmosudiro : Organisasi
adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja
antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara tertentu
untuk bersamasama mencapai suatu tujuan tertentu.
c.
Pengorganisasian sebagai Salah satu
Fungsi Manajemen
Pentingnya pengorganisasian sebagai fungsi manajemen
yang dijalankan oleh setiap manajer atau orang-orang yang menjalankan manajemen
dalam setiap organisasi adalah karena pengorganisasian merupakan salah satu
fungsi manajemen yang penting, karena dengan pengorganisasian berarti akan memadukan
seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi (baik sumber daya yang berupa
sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya) ke arah tercapainnya suatu
tujuan manajemen. Dalam pengorganisasian seluruh sumber (resources) baik berupa
manusia maupun yang non-manusia harus di atur dan padukan sedemikian rupa demi
berjalannnya suatu organisasi dalam rangka usaha pencapaian tujuan manajemen
organisasi.
Pemahaman tentang pengorganisasian sebagai salah
satu fungsi manajemen akan memberikan kejelasan bahwa proses pengaturan di
dalam organisasi tidak akan selesai tanpa diikuti oleh aktualisasi yang berupa
bimbingan kepada manusia yang berada di dalam organisasi tersebut, sehingga
manusia tersebut dapat secara terus-menerus menjalankan kegiatan sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Koontz & Donnell
menyebutkan fungsi pengorganisasian manajer meliputi penentuan golongan
kegiatan – kegiatan yang diperlukan untuk tujuan – tujuan perusahaan,
pengelompokan kegiatan tersebut kedalam suatu bagian yang dipimpin oleh seorang
manajer serta melimpahkan wewenang untuk melaksanakannya.
2.
Accounting dalam Manajemen :
a)
Definisi
Accounting menurut beberapa ahli :
Harahap (2003) mendefinisikan
akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara
tertentu dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya
bersifat keuangan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
Charles T.
Horngren, dan Walter T.Harrison (Horngren Harrison, 2007) menyatakan bahwa: Akuntansi adalah sistem
informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi laporan, dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan.
Menurut Warren dkk
(2005) menjelaskan bahwa: “secara umum,
akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan
laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan
kondisi perusahaan”.
b)
Pentingnya
Accounting
Akuntansi
mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu kegiatan manajemen, baik manajemen
dalam organisasi kecil maupun organisasi dalam skala besar, seperti perusahaan.
kemajuan suatu organisasi manajemen dapat dilihat dari proses akuntansi manajemen
organisasi tersebut. Jika proses
akuntansinya tersusun dengan baik dan benar sesuai dengan bukti-bukti yang ada,
maka kemungkinan besar organisasi tersebut merupakan organisasi yang baik,
begitu pula sebaliknya.
Akuntansi
juga berfungsi sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan terhadap aktivitas ekonomi dan kondisi suatu
organisasi, misalnya untuk mengetahui maju mundurnya suatu perusahaan
dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan tersebut. Selain itu akuntansi
juga berfungsi sebagai dasar dalam perhitungan pajak suatu perusahaan dan dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para investor yang ingin
menginvestasikan asset mereka. Jadi dengan kata lain akuntansi merupakan
cerminan dari suatu perusahaan.
c)
Prinsip
– prinsip Accounting
Prinsip
akuntansi adalah aturan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan dan
konsep teoritis akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik
akuntansi. Untuk lebih memahami dan membandingkan apa yang sebenarnya
dapat dimasukkan sebagai prinsip akuntansi, berikut ini dikemukakan beberapa
perangkat konsep-konsep dasar menurut beberapa sumber :
1.
Prinsip Akuntansi menurut Prinsip
Akuntansi 1984.
a.
Kesatuan Akuntansi
b.
Kesinambungan
c.
Periode Akuntansi
d.
Pengukuran Dalam Nilai Uang
e.
Harga Pertukaran
2.
Prinsip Akuntansi menurut APB
Statement No.4
a.
Kesatuan usaha sebagai focus akuntansi
(accounting entity)
b.
Kontinuitas Usaha (Going Concern)
c.
Pengukuran aktiva dan Passiva unit Usaha
(measurement of economic resources and obligations)
d.
Laporan berdasarkan periode waktu (Time
Periode)
e.
Pengukuran dalam satuan moneter
(measurement in term of money)
f.
Asas himpun/akrual (accrual)
g.
Harga Pertukaran (jual beli) (exchange
price)
h.
Angka/jumlah rupiah pendekatan
(Approximation)
i.
Kebijaksanaan (judgement)
j.
Informasi Keuangan Umum (General Purpose
Finansial Information)
k.
Laporan Keuangan Saling Berkaitan
(Fundamentally Related Financial Statements)
l.
Mementingkan Substansi Daripada Bentuk
luar/Yuridis (Substance Over Form)
m.
Materialitas (Materiality)
3. Prinsip Kos
APB
Statement No.4 mendefinisikan Kos adalah jumlah, diukur dalam uang, kas uang
dibelanjakan atau property lain yang ditransfer, penerbitan modal saham, jasa
yang diberikan atau uang yang terjadi, sebagai imbalan atas barang atau jasa
yang diterima, atau seharusnya diterima.
Kos
dapat diklasifikasikan sebagai belum terpakai (unexpired) adalah asset yang
dapat digunakan untuk menghasilkan revenue di masa mendatang dan telah terpakai
(experid) adalah pengurang revebue atau dibenbankan sebagai pengurang laba
ditahan.
Prinsip
kos dijustifikasi oleh postulat kelangsungan usaha yang mengasumsikan bahwa
entitas akan meneruskan aktivitasnya secara tidak terbatas, sehingga
mengelimiasi perlunya menggunakan nilai sekarang atau nilai likuiditas untuk
penilaian asset.
Prinsip
kos lemah pada validitas postulat unit pengukur, yang mengasumsikan bahwa daya
beli dolar adalah stabil, merupakan keterbatasan utama untuk menerapkan prinsip
kos, pada kenyataannya adanya inflasi.
4. Prinsip Revenue
a.
Prinsip Revenue Menspesifikasi :
1.
Sifat Komponen-komponen revenue
2.
Pengukuran Revenue
3.
Waktu Pengukuran Revenue
4.
Sifat dan Komponen-Komponen Revenue
b. Revenue diintrepretasikan sebagai :
Aliran masuk asset bersih yang berasal
dari penjualan barang atau jasa. Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan
kepada pelanggan Produk perusahaan yang dihasilkan dan penciptaan barang atau
jasa oleh perusahaan selama periode waktu tertentu.
5. Prinsip Penandingan
Prinsip penandingan mengatakan bahwa expense (beban)
harus diakui pada periode yang sama dengan revenue, yaitu revenue diakui dalam
periode tertentu sesuai dengan prinsip revenue, dan beban yang terkait kemudian
diakui.
Hubungan antara revenue dan expense tergantung pada
satu dari empat criteria:
a.
Penandingan langsung kos yang telah
terpakai dengan peridenya (sebagai contoh, gaji direktur untuk periode
tertentu).
b.
Alokasi kos selama periode yang
mendapatkan manfaat (sebagai contoh, depresiasi).
c.
Menjadikan expense semua kos lain dalam
periode terjadinya, kecuali jika dapat ditunjukkan bahwa masih memiliki manfaat
di masa mendatang.
d.
Kos yang belum terserap (yaitu, asset)
yang tidak memenuhi salah satu dari empat criteria untuk menjadikannya expense
pada periode berjalan dapat dibebankan pada periode mendatang dan dapat
diklasifikasikan dalam kategori yang berbeda sesuai penggunaan yang dalam
penerapan prinsip penandingan.
6. Prinsip Objektivitas
Kegunaan
informasi keuangan tergantung pada tingkat realibilitas prosedur pengukuran
yang digunakan. Karena menjamin reliabilitas maksimum adalah salat sulit,
akuntan, telah menggunakan prinsip objektivitas untuk menjustifikasi pemilihan
prosedur pengukuran yang digunakan.
Prinsip
objektivitas, bagaimanapun, yang menjadi subjek interpretasi yang berbeda :
a.
Pengukuran objektivitas merupakan ukuran
yang tidak bersifat personel dalam pengertian bebas dan bias personel
pengukurnya.
b.
Pengukuran objektivitas merupakan
pengukuran variable dalam pengertian bahwa pengukuran didasarkan pada bukti.
c.
Pengukuran objektivitas merupakan hasil
dari dari konsensus diantara kelompok pengamat atau pengukur tertentu.
d.
Ukuran penyebaran atau distribusi
pengukuran digunakan sebagai indicator tingkat objectivitas suatu system
pengukuran termaksud.
7. Prinsip Konsistensi
Prinsip konsistensi menyatakan bahwa peristiwa
ekonomi yang serupa seharusnya dicatat dan dilaporkan secara konsisten dari
period ke periode. Prinsip ini berimplikasi bahwa prosedur akuntansi yang
semua akan diterapkan dalam item serupa sepanjang waktu.
Prinsip konsistensi tidak menghalangi perusahaan
mengubah prosedur akuntansi ketika hal tersebut dapat dibenarkan dengan
perubahan keadaan, atau jika prosedur alternative lebih baik. Menurut APB
opinion No. 20 perubahan yang dapat menjustifikasi perubahan prosedur adalah :
a.
Perubahan dalam prinsip akuntansi
b.
Perubahan dalam estimasi akuntansi
c.
Perubahan dalam entitas pelaporan
Perubahan
ini harus terefleksi dalam akun dan dilaporakan dalam laporan keuangan secara
retroaktif untuk perubahan dalam entitas akuntansi, secara prospektif untuk
perubahan dalam estimasi akuntansi, dan secara umum dan segera untuk perubahan
dalam prinsip akuntansi.
8. Prinsip Pengungkapan Penuh
Terdapat
consensus umum dalam terdapat pengungkapan data akuntansi yang penuh (full),
wajar (fair), cukup (adequate). Pengungkapan penuh mensyaratkan bahwa
laporan keuangan didesaian dan dibuat untuk menggambarkan secara akurat
peristiwa ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan untuk suatu periode dan
memuat informasi yang memadai untuk membuat laporan keuangan dan tidak
menyesatkan bagi rata-rata investor. Beberapa hal yang menjadi perhatian
pengungkapan penuh :
Rincian tentang kebijakan dan metode
akuntansi, terutama bila diperlukan pertimbangan dalam penerapan metode
akuntansi.
Informasi tambahan untuk membantu
analisa investasi atau untuk mengindikasikan hak berbagai pihak yang memiliki
klaim atas pelaporan entitas.
Perubahan dari tahun sebelumnya dalam
kebijakan dan metode akuntansi yang digunakan dan dampak perubahan
tersebut.
Aset, Utang, Kos, dan Revenue yang
timbul dari transaksi dengan pihak lain yang memiliki kepentingan pengendalian
atau dengan direktur atau karyawan yang memiliki hubungan khusus dalam entitas
pelaporan.
Aset, Utang, dan Komitmen Bersyarat
Transaksi keuangan atau transaksi
operasi lainnya yang terjadi setelah tanggal neraca yang memiliki dampak
material terhadap posisi keuangan entitas.
9. Prinsip Konservatisme
Prinsip
Konservatisme menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih teknik
akuntansi yang dapat diterima, maka preferensinya adalah memilih yang paling
kecil dampaknya terhadap ekuitas pemegang saham.
10. Prinsip Materialitas
Prinsip
materialitas menyatakan bahwa transaksi dan peristiwa yang tidak memiliki
dampak ekonomi signifikan dapat diatasi dengan cara yang paling tepat, apakah
transaksi dan peristiwa tersebut sesuai dengan prinsip berterima umum atau
tidak, dan tidak perlu diungkapkan.
Suatu
jumlah material tidak semata-mata, karena alasan besarnya jumlah, factor-factor
lain meliputi serangkaian hal-hal berikut ini harus dipertimbangkan dalam
membuat keputusan tentang materilitas. Antara lain :
Sifat
Item, apakah item :
Merupakan factor masukkan dalam
penentuan net income
Tidak biasa atau luar biasa
Peristiwa atau kondisi bersyarat.
Dapat ditentukan berdasarkan fakta dan
keadaan yang ada
Diminta oleh undang-undang atau
regulasi.
Jumlah
item itu sendiri, dalam hubungannya dengan :
Laporsn keuangan secara keseluruhan.
Total akun tempat item tersebut
terbentuk, atau seharusnya terbentuk sebagai bagiuannya,
Item item terkait
Jumlah yang terkait dalam tahun
sebelumnya atau jumlah yang diharapakan dalam tahun-tahun mendatang.
11. Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas
Prinsip
keseragaman merujuk pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan yang
berbeda. Tujuan yang diinginkan adalah mencapai komparabilitas laporan
keuangan dengan mengurangi keanekaragaman yang tercipta karena penggunaan
prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
Pendukung
utama prinsip keseragaman mengklaim bahwa prinsip tersebut akan :
a.
Mengurangi perbedaan penggunaan prosedur
akuntansi dan ketidakcukupan praktik akuntansi
b.
Memungkinkan perbandingan yang berarti
bagi pengguna laporan keuangan.
c.
Memperbaiki kepercayaan pengguna para
laporan keuangan.
d.
Mendorong intervensi pemerintah dan
regulasi praktik akuntansi
Pendukung
utama fleksibilitas mengklaim bahwa :
a.
Penggunaan prosedur akuntansi yang
seragam untuk menunjukkan item yang sama yang terjadi dalam berbagai kasus
menimbulkan risiko penyembunyian perbedaan-perbedaan penting diantara kasus
tersebut.
b.
Komparbilitas merupakan tujuan yang
tidak praktis, hal tersebut tidak dapat dicapai dengan mengadopsi aturan-aturan
perusahaan yang tidak menggunakan pencatatan yang memadai untuk situasi factual
yang berbeda.
c.
Perbedaan dalam keadaan”atau “
variable-variabel keadaan meminta perlakuan yang berbeda, sehinggga pelaporan
perusahaan dapat merespon keaadaan tempat transaksi dan peristiwa terjadi.
3.
Mengendalikan
Fungsi Manajemen :
a)
Definisi
Mengendalikan (controling)
Earl P.Strong mengemukakan pengendalian
adalah proses pengatur an berbagai faktor dalam suatu perusahaan,agar
pelaksanaan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana.
Harold Koontz berpendapat bahwa pengendalian
adalah pengukuran dan koreksi kinerja bawahan,agar rencana-rencana yang telah
dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara.
b)
Langkah
- langkah Pengendalian ( control )
Langkah-langkah proses pengendalian
:
1.
Menentukan standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
2. Mengukur
pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
3.
Membandingkan pelaksanaan atau hasil standard dan menentukan penyimpangan jika
ada.
4. Melakukan
tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan
sesuai dengan rencana.
c)
Tipe
– tipe pengendalian ( control )
1.
Tipe-tipe pengendalian (awal) preliminary,
kadang-kadang disebut kendali feedforward, hal ini harus dipenuhi sebelum suatu
perkerjaan dimulai. Kendali ini menyakinkan bahwa arah yang tepat telah disusun
dan sumber-sumber yang tepat tersedia untuk memenuhinya.
2.
Tipe-tipe pengendalian (saat ini) concurrent berfokus
pada apa yang sedang terjadi selama proses. Kadang-kadang disebut kendali
steering, kendali ini memantau operasi dan aktivitas yang sedang berjalan untuk
menjamin sesuatunya telah sedang dikerjakan dengan tepat.
3.
Tipe-tipe pengendalian (akhir) post-action;
kadang-kadang disebut kendali feedback , kendali ini mengambil tempat setelah
suatu tindakan dilengkapi. Kendali akhir berfokus pada hasil akhir, kebalikan
dari input dan aktivitas.
d)
Kontrol
/ pengendalian proses manajemen.
Manajemen
yang merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan
pengawasan terhadap upaya-upaya yang dilakukan anggota organisasi dan
penggunaan segala macam sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan organisasi.
Pengendalian setidaknya melibatkan beberapa aktivitas yaitu:
1.
Menentukan apa yang akan diukur
2.
Menentukan standar yang telah ditentukan sebelumnya
3.
Pengukuran kinerja
4.
Membandingkan hasil pengukuran dengan standar
5.
Tindakan koreksi.
Proses pengendalian manajemen ini diperlukan karena dengan pengendalian
manajemen dapat dilakukan perbaikan secara cepat dan tidak harus menunggu
sampai satu periode pelaksanaan strategis selesai apabila strategi yang sebelumnya telah ditetapkan
tidak efektif lagi.
Terdapat tiga langkah penting dalam proses pengendalian manajemen yaitu:
1. Mengukur
hasil/prestasi yang telah dicapaioleh staf atau organisasi
2. Membandingkan
hasil yang telah dicapai dengan tolok ukur.
3. Memperbaiki
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya,
dan menggunakan, dan menggunakan faktor tersebut untuk menetapkan
langkah-langkah intervensi.
Referensi :
Handoko, T. Hani (2003), Manajemen. Edisi Kedua.
Cetakan Kedelapanbelas. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar